SMA NEGERI 3 KOTABUMI-LAMPUNG

SMA NEGERI 3 KOTABUMI-LAMPUNG
Wish You All The Best

Sabtu, 12 Mei 2012

Materi Kuliah


I. PENDAHULUAN
Pengajaran sastra di lembaga pendidikan formal dari hari ke hari semakin sarat dengan berbagai persoalan. Tampaknya, pengajaran sastra memang pengajaran yang bermasalah sejak dahulu. Keluhan-keluhan para guru, subjek didik, dan sastrawan tentang rendahnya tingkat apresiasi sastra selama ini menjadi bukti konkret adanya sesuatu yang tak beres dalam pembelajaran sastra di lembaga pendidikan formal. Pertama, pengetahuan dan kemampuan dasar dalam bidang kesastraan para guru sangat terbatas. Materi kesastraan yang mereka peroleh selama mengikuti pendidikan formal di LPTK sangat terbatas. Materi kuliah kesastraan yang mereka peroleh lebih bersifat teoretis, sedangkan yang mereka butuhkan di lapangan lebih bersifat praktis. Kedua, buku dan bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah, khususnya di SLTP dan SMU juga terbatas. Keterbatasan buku penunjang ini tidak terjadi di SD karena hampir semua SD, di daerah perkotaan khususnya, setiap tahun menerima kiriman buku bacaan dari Proyek Perbukuan Nasional Depdikbud. Cuma saja, pemanfaatan buku bacaan tersebut tampaknya belum maksimal karena ada faktor lain yang berkait dengan ini, yaitu faktor minat siswa atau subjek didik. Minat belajar dan minat membaca para siswa masih sangat rendah. Faktor ketersediaan waktu, manajemen perpustakaan sekolah, dan dorongan dari guru menjadi penyebab utama dalam hal ini.
Berbagai kendala di atas menyebabkan pengajaran sastra di berbagai jenjang pendidikan formal hingga saat ini belum mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan. Tujuan akhir pembelajaran sastra, penumbuhan dan peningkatan apresiasi sastra pada subjek didik belum menggembirakan. Tulisan ini mencoba mengulas secara ringkas akibat yang muncul dari berbagai faktor di atas beserta alternatif pemecahan untuk kita diskusikan lebih lanjut. Hal ini tentu saja dimaksudkan untuk mencoba mencari titik temu dan kesamaan persepsi kita ke arah peningkatan kualitas pengajaran sastra di lembaga pendidikan formal pada masa yang akan datang.

II. PEMBAHASAN

1. PERMASALAHAN PENELITIAN SASTRA
Suryadibrata menjelaskan bahwa munculnya masalah itu karena ada kesenjangan (gap) antara das sollen dan das sein;  ada perbedaan antara apa yang seharusnya dengan apa yang ada dalam kenyataan, antara apa yang diperlukan dan apa yang tersedia, antara harapan dan kenyataan. Yang menjadi masalah bisa apa saja seperti sesuatu yang tidak memuaskan, berbagai macam kesulitan, urusan yang ingin diubah, segala sesuatu yang  berjalan tidak sesuai dengan keinginan, dan sebagainya.
            Pendapat tersebut didukung pula oleh Nawawi, bahwa kemunculan masalah terjadi karena tidak terdapatnya keseimbangan antara sesuatu yang diharapkan (das sollen) berdasarkan teori-teori atau hukum-hukum yamg menjadi tolok ukur dengan kenyataan (das sein) sehingga menimbulkan pertanyaan mengapa demikian atau apa sebabnya demikian. Di samping itu, masalah dapat pula muncul karena keragu-raguan tentang keadaan sesuatu , sehingga ingin diketahui keadaannya secara mendalam dan objektif.” 
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa pada hakikatnya  masalah adalah keadaan yang muncul  ketika ada kesenjangan antara apa yang diinginkan dengan apa yang ada dalam kenyataan. Kesenjangan itulah yang menjadi inti masalah.  Masalah bisa bersifat konseptual-teoretis, maupun yang bersifat praktis yaitu masalah-masalah yang ditemui dalam kegiatan manusia sehari-hari,seperti ;
—  Apakah berguna?
—  Apakah dapat diteliti?
—  Apakah fisibel?
—  Apakah menarik?
—  Apakah ada kebaruan?
—  Apakah jelas batasnya?
—  Apakah relevan dengan bidang studi peneliti?
Untuk membantu peneliti muda dalam usaha mennyeleksi dan merumuskan masalah dan sub-masalah yang patut dibahas secara ilmiah ada beberapa kriteria yang perlu mendapat perhatian :
  1. Masalah penelitian harus dipilih yang berguna untuk diungkapkan.
  2. Masalah yang dipilih harus relevan dengan kemampuan atau keahlian peneliti.
  3. Masalah penelitian harus menarik perhatian untuk diungkapkan.
  4. Masalah penelitian sedapat mungkin menghasilkan sesuatu yang baru.
  5. Masalah penelitian harus dipilih yang dapat dihimpun datanya secara lengkap dan obyektif.
  6. Masalah penelitian tidak boleh terlalu luas, tetapi juga tidak boleh terlalu sempit
2. PERMASALAHAN PENGAJARAN SASTRA
            Pengajaran sastra di sekolah sangat beragam, mulai dari pengenalan sejarah sastra, pengejaran yang bersifat teori tentang penulisan karya sastra, dan pengajaran apresiasi sastra yang melibatkan unsur teori dan emosi. Kegiatan apresiasi ini sangat diperlukan dalam pengajaran sastra. Dengan kegiatan apresiasi ini siswa diharapkan akan lebih memahami sebuah karya sastra.
            Menyadari betapa pentingnya peranan sastra, kini fenomena yang muncul adalah adanya tanggapan-tanggapan negatif mengenai pembelajaran sastra. Tanggapan negatif tersebut berasal dari para pengajar sastra maupun dari kalangan sastrawan itu  sendiri. Pada dasarnya mereka berpendapat bahwa pengajaran sastra masih bermasalah. Tujuan pengajaran sastra di sekolah-sekolah pada umumnya lebih ditekankan pada penguasaan pengetahuan yang bersifat teoretis bukan pada aspek apresiasi sastra. Ada beberapa faktor yang mengakibatkan pengajaran sastra di sekolah-sekolah kurang mengarah pada segi apresiatif. Faktor-faktor tersebut antara lain ;
1.      Faktor Sarana Buku Pelajaran Sastra
Faktor ini menyangkut masalah ada tidaknya buku pelajaran sastra. Fenomena ini bisa kita temukan dengan mudah di sekolah-sekolah. Pengajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah dewasa ini lebih ditekankan pada pengajaran yang bersifat teoretis, hal ini salah satunya diakibatkan karena buku penunjang sastra yang memang sangat tidak memadai. Faktor sarana menyangkut tidak adanya perpustakaan sekolah yang tidak memadai sehingga buku-buku sastra yang tersedia kurang mendukung tercapainya tujuan pengajaran.
2.      Guru
Faktor guru ditinjau dari cara menyajikan materi, guru lebih menekankan pengetahuan tentang sastra dan kurang memperhatikan kemampuan siswa dalam mengapresiasi dan mengekspresikan karya sastra. Hal itu didukung pula oleh kondisi siswa yang merasa jenuh ketika harus belajar bahasa yang dianggapnya membosankan, ditambah lagi tidak adanya media yang mampu merangsang mereka untuk bisa menyukai pelajaran sastra.
3.      Sistem Ujian
Selama ini, evalusi pembelajaran sastra lebih diarahkan pada penguasaan teori dan sejarah sastra. Soal-soal buatan guru ataupun soal standar nasional belum berorientasi sepenuhnya pada evaluasi yang bersifat apresiatif. Evaluasi yang bersifat apresiatif seharusnya beranjak dari hakikat karya sastra sebagai karya yang memungkinkan timbulnya interpretasi yang beragam, yang mungkin berbeda antara satu siswa dengan siswa yang lain. Karenanya, penggunaan soal bentuk isian ataupun soal uraian tampaknya lebih tepat digunakan dalam evaluasi pembelajaran sastra. Penggunaan soal bentuk yang lain, pilihan berganda misalnya, memaksa siswa untuk memilih satu jawaban yang dianggap paling tepat oleh pembuat soal sehingga interpretasi personal siswa tidak berkembang.


III. PENUTUP

Kemunculan masalah terjadi karena tidak terdapatnya keseimbangan antara sesuatu yang diharapkan (das sollen) berdasarkan teori-teori atau hukum-hukum yamg menjadi tolok ukur dengan kenyataan (das sein) sehingga menimbulkan pertanyaan mengapa demikian atau apa sebabnya demikian. Di samping itu, masalah dapat pula muncul karena keragu-raguan tentang keadaan sesuatu , sehingga ingin diketahui keadaannya secara mendalam dan objektif.” 
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa pada hakikatnya  masalah adalah keadaan yang muncul  ketika ada kesenjangan antara apa yang diinginkan dengan apa yang ada dalam kenyataan. Kesenjangan itulah yang menjadi inti masalah.  Masalah bisa bersifat konseptual-teoretis, maupun yang bersifat praktis yaitu masalah-masalah yang ditemui dalam kegiatan manusia sehari-hari.
Dan Tampaknya masih banyak yang harus dilakukan untuk menjadikan pengajaran sastra di lembaga pendidikan formal tidak lagi sarat dengan berbagai masalah pada masa yang akan datang. LPTK negeri dan swasta (FKIP, STKIP, dsb.) sebagai lembaga yang mendidik calon guru sastra sudah saatnya meninjau kembali penetapan jenis dan bobot mata kuliah kesastraan yang diprogramkan per semester, isi silabus per mata kuliah, kualifikasi dosen pengajar mata kuliah kesastraan, dan berbagai hal lain yang berkait dengan perkuliahan kesastraan di LPTK. Kecenderungan untuk menganggap kuliah kesastraan itu mudah, sepele, dan dapat diajarkan oleh siapa saja selama ini sudah saatnya ditanggalkan.
Bagi rekan-rekan guru yang sudah terlanjur memilih menjadi guru bahasa dan sastra Indonesia (dan daerah) di lembaga pendidikan dasar dan menengah sudah saatnya kita mengintrospeksi diri dan bertekad memberikan yang terbaik untuk pengajaran sastra. Kecenderungan untuk pasrah menerima kekurangan dan keterbatasan diri, keterbatasan fasilitas, dan berbagai keterbatasan lain sudah saatnya dibuang. Demikian juga halnya dengan kecenderungan untuk asal masuk kelas, asal anak-anak tidak ribut, asal target kurikulum tercapai, dan berbagai asal-asalan lain.

Senin, 26 Maret 2012

Penelitian Pengajaran Bahasa




A. Pendahuluan
Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan  telah meningkatkan derajat hidup manusia. Dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, kebutuhan hidup manusia yang dulu sulit dipenuhi kini menjadi relatif mudah. Untuk bisa makan daging, orang zaman dahulu harus berburu dulu ke hutan, sekarang daging itu sudah dikemas sedemikian rupa dan siap disajikan. Asal punya uang, daging siap makan itu sudah tersedia di berbagai tempat yang bernama minimarket atau supermarket. Kemudahan itu pun terjadi dalam hal penyiapan pakaian, minuman, dan perlengkapan hidup lain. Dalam soal interaksi misalnya, untuk bertegur sapa dengan saudara diluar kota, dulu orang harus berjalan atau berkendara  untuk melakukannya. Sekarang, dengan sebuah handphone, kita bisa melakukannya tanpa beranjak sedikit pun.
Berkah kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi juga memberikan kemudahan dalam dunia pendidikan. Berkat komputer dan internet, pencarian literatur bisa dilakukan dengan kecepatan dan kuantitas yang  nyaris tidak terkira. Bayangkan saja, dahulu untuk memperoleh beberapa artikel tentang suatu teori atau topik, kita harus mengunjungi beberapa perpustakaan. Sekarang, dengan bantuan internet dan komputer, ribuan literatur (jika itu ada) dengan begitu cepat dan mudah sudah tersaji pada monitor di depan kita.
Kunci  kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tiada lain adalah adanya penelitian. Proses penelitian inilah yeng menciptakan pembaharuan-pembaharuan dalam hidup kita. Termasuk di dalamnya  pembaharuan di bidang pendidikan.
B. Pengertian Penelitian
   Kata penelitian terdiri atas kata dasar teliti dan konfiks pe-an.  Konfiks pe-an  dalam kata tersebut bermakna proses. Kata teliti pada kata penelitian jika kita telaah lebih dalam dengan rasa bahasa, memiliki makna yang lebih dinamis dibanding kata teliti pada kata ketelitian. Sebagai akibat penggunaan konfiks pe-an, kata teliti pada kata penelitian sejajar dengan makna kegiatan meneliti, maknanya terasa lebih ditekankan pada suatu proses kegiatan mencari, menemukan dan menelaah. Berbeda jika kata teliti itu diberi afiks ke-an menjadi  kata ketelitian, maknanya akan terasa lebih menekankan pada makna hal dan hasil. 
Kegitan penelitian dilakukan tentu karena ada tujuan. Dilihat dari tujuannya, penelitian bisa dibagi menjadi dua kelompok, yaitu penelitian murni dan penelitian terapan.  Penelitian murni  adalah  penelitian yang dilakukan untuk mengembangkan teori atau ilmu. Penelitian ini lebih menekankan pada upaya menemukan hal-hal baru atau pengetahuan baru yang lebih detil, mendalam, atau bisa juga lebih luas. Dalam bidang bahasa, yang tergolong penelitian murni diantaranya adalah  kajian terhadap jenis-jenis afiks dalam bahasa Sunda;  pola kalimat  bahasa Bima; proses morfologis pembentukan kosakata baru  bahasa  gaul dll.
Penelitian terapan adalah penelitian yang dilakukan untuk  menerapkan  ilmu atau teori yang ada untuk keperluan praktis, yang bermanfaat secara langsung dalam kehidupan manusia. Penelitian terapan ini bisa dikatakan lanjutan dari penelitian murni. Jika penelitian murni dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akan keingintahuan, maka penelitian terapan ditekankan pada pemanfaatan pengetahuan baru tersebut untuk keperluan yang yang lebih praktis dan pragmatis, atau lebih berkaitan langsung dengan kebutuhan hidup manusia. Dorongan utama  penelitian ini adalah  keinginan manusia untuk memecahkan masalah-masalah kehidupannya dengan pendekatan ilmiah. Dalam hal ini, ilmu atau teori (baik yang baru maupun lama) dimanfaatkan sebagai  alternatif  pemecahan masalah-masalah tersebut. Dalam bidang bahasa, contoh penelitian yang berkategori penelitian terapan  misalnya: efektivitas penggunaan pola reptisi dalam  bahasa dakwah (dilakukan oleh lembaga dakwah untuk meningkatkan  efektivitas program lembaga tersebut);  pemanfaatan teknik penyingkatan dalam penyusunan  iklan baris dan kolom (dilakukan para praktisi iklan untuk meningkatkan efektivitas periklanan);  penggunaan mind map (peta pikiran) dalam pembelajaran membaca kritis (dilakukan oleh guru/dosen membaca  untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran membaca), dll.
Dengan dasar pijakan  cara pemaknaan di atas, penelitian bisa diartikan sebagai  suatu proses pencarian, penemuan, penelaahan, yang dilakukan dengan teliti, kritis, dan sistematis untuk memperoleh pengetahuan baru atau untuk pemecahan masalah.

C.  Jenis Penelitian
   Menurut tujuannya, seperti telah dijelaskan sebelumnya, bisa dibagi dua yaitu penelitian murni dan penelitian terapan. Dilihat dari Kesengajaan melakukan penelitian, penelitian bisa dibedakan menjadi penelitian ilmiah dan alamiah. Dilihat dari pendekatannya, penelitian bisa dikelompokkan menjadi delapan, yaitu penelitian survey, ex post facto, eksperimen, naturalistik, policy reseach, action reseach, evaluasi , dan sejarah. Dilihat dari  tingkat eksplanasinya,  penelitian bisa dikelompokkan menjadi tiga, yaitu deskriptif, komparatif, dan asosiatif. Dilihat dari jenis data yang diteliti, penelitian bisa dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu penelitian kualitatif, kuantitatif, dan kuantilatif (gabungan kuantitatif dengan kualitatif).


1.      Penelitian Dilihat dari Kesengajaan Melakukan Penelitian
Dilihat dari aspek kesengajaan melakukan penelitian, kegiatan ini bisa dikelompokkan menjadi dua macam penelitian, yaitu penelitian alamiah dan penelitian ilmiah. Penelitian alamiah adalah penelitian yang dilakukan sebagai akibat dari kodrat manusia yang selalu ingin tahu dan tidak puas dengan apa yang sudah dimiliki. Penelitian alamiah ini terjadi begitu saja. Bisa dikatakan lebih diakibatkan oleh keinginan bertahan hidup dengan kehidupan yang lebih baik. 
Penelitian ilmiah merupakan penelitian lanjutan dari penelitian alamiah. Kegiatan ini dilakukan secara lebih sadar dan terprogram. Dasar tindakan kegiatannya bukan lagi hanya sekedar insting, tetapi pengetahuan dari pengelaman yang telah teruji kebenarannya. Pengetahuan yang telah teruji kebenarannya itu adalah apa yang biasa disebut dengan teori, dalil, ataupun ilmu.  Untuk memperoleh  teori, dalil, atau ilmu, manusia telah mengalami proses pencarian, penemuan, dan pengujian dengan waktu yang lama dan berulang-ulang. Ujung dari proses pencarian itu adalah terumuskannya apa yang kita sebut ilmu pengetahuan. Penelitian ilmiah adalah penelitian yang telah didasarkan pada teori dan ilmu pengetahuan yang sudah terumuskan itu.
Untuk  lebih memberikan gambaran lebih konkret, bagaimana manusia melakukan kegiatan penelitian ilamiah dan ilmiah,  berikut ini disajikan dasar pemikiran dan beberapa buktinya.
Tuhan memberikan akal kepada manusia untuk selalu memikirkan apa yang didapat dan diketahuinya. Hasil kegiatan berpikir itu menghasilkan pemahaman-pemahaman baru tentang kehidupan dan apa yang dialaminya.  Ketika Adam dan Hawa berada di syurga, mereka sebenarnya telah mendapat segalanya. Tetapi karena sebagai manusia mereka mempunyai akal, ia selalu memikirkan segala sesuatu yang ada termasuk kemunginan-kemungkinan rasionalnya.
Ada saatnya mereka terlena menggunakan akal itu, yaitu ketika Iblis memberikan pengalaman baru berupa adanya fakta  berbentuk pohon khuldi dan buahnya yang ranum. Fakta adanya pohon dan buah itu, ditambah dengan masukan informasi dari sang Iblis bahwa buah itu mammpu meberi faedah kekekalan, menuntun akal mereka untuk berpikir dan melakukan pembuktian dengan memakannya. Sebenarnya, Tuhan telah melarang mendekati pohon itu dan memakan buahnya. Tetapi karena desakan kepenasaran lebih kuat, mereka memakan buah itu, sekaligus melanggar perintah Tuhan dengan sendirinya. Terlepas dari berbagai penafsiran agamis,  kisah itu menunjukkan bahwa Adam dan Hawa sebagai sosok manusia memang sudah secara kodrati memiliki dorongan untuk melakukan apa yang disebut penelitian.
Memang selalu ada pilihan pada akhir memuaskan keingintahuan, yaitu iming-iming keuntungan (penemuan baru yang lebih baik), atau ancaman kerugian (resiko kegagalan yang ditemukan). Dalam kisah Adam-Hawa, Iblis, dan buah Khuldi, penelitian manusia berakhir bencana (diusir dari Syurga), tetapi dari proses penelitian, manusia menemukan sebuah kesimpulan yang sangat berharga : Jangan membangkang kepada Tuhan dan jangan percaya terhadap masukan Iblis.
Sebagai salah satu bukti proses penelitian almiah, kita bisa melihatnya pada  bagaimana manusia belajar  sejak bayi.  Perhatikan salah satu contoh berikut.
Ada seorang bayi dalam sebuah ruangan bermain dengan kedua orang tuanya. Si bayi tertarik dengan sebuah obyek (bola) namun tidak dapat meraihnya. Ia tentu belum mampu berkata “Ma, tolong ambilkan bola”.  Si bayi hanya mampu memandang bola dan mengeluarkan suara “baa’ atau sejenisnya. Ketika  tidak ada respon baik dari sang ayah maupun ibunya, dia bersuara “baa” lagi, lagi, dan lagi bahkan lebih keras. Teriakan itu adalah ekspresi  hasrat yang tidak terpuaskan, tetapi pada sisi lain merupakan  alat menarik perhatian orang lain agar memahami keinginannya. 
Si ayah dan ibu akhirnya memperhatikannya. Spekulasi pemikiran tentu akan terjadi dalam benak  ayah dan ibunya.
 “Anak kita lapar mungkin , Bu!” kata si ayah.
 “Saya kira tidak,” jawab si Ibu, “Dia baru saja makan”. “Mungkin popoknya perlu diganti,” kata si ibu.
“Bukankah kamu baru menggantinya setelah makan?” tanya si ayah.
“Iya,ya” jawab si Ibu.
Setelah beberapa dugaan atau hipotesis dicoba, akhirnya orang tua tersebut sampai pada kemungkinan bahwa anaknya menginginkan sesuatu. Bunyi “baa” mengarah pada sesuatu dalam ruangan. Di ruangan itu ada bola yang terus dilihat si bayi. Si ibu mengembangkan hipotesis baru. Mungkin si anak menginginkan bola. Dia mengambilnya memberikannya kepada anaknya dan dengan intonasi naik bertanya “bola?”. Si anak meraih bola itu dengan wajah ceria dan disertai tawa lucu. 
Secara alamiah, proses tadi memberi pengetahuan baru bagi si bayi bagaimana menarik perhatian  orang tua dan memenuhi hasratnya. Bagi  si ayah dan ibu,  peristiwa tersebut memberinya pengetahuan baru bagaimana memahami simbol-simbol komunikasi dari anaknya.
Baik si bayi maupun kedua orang tuanya  sama-sama melakukan proses penelitian. Meskipun belum  dalam tahap pemaknaan ‘sadar’, prilaku sang bayi sudah merupakan ekspresi dari potensi manusia untuk berusaha memecahkan masalah. Dalam dirinya sudah ada kesadaran akan adanya ‘masalah’ dan ada upaya untuk memecahkannya dengan berkata ‘baa’ beberapa kali. Dengan tingkatan yang lebih tinggi, proses penelitian juga dilakukan sang orang tua. Ucapan ‘baa’ sang anak adalah sebuah fenomena. Beberapa dugaan mereka sebagai hasil dari kegiatan berpikir adalah hipotesis. Hipotesis itu kemudian diuji dengan fakta empiris berupa apa yang telah mereka lakukan.  Dengan menggunakan logika, akhirnya mereka bisa menghubungkan antara dugaan dan fakta sehingga sampai pada kesimpulan bahwa  sang anak menginginkan bola.
Ada contoh lain. Seorang anak beretnis Jawa sedang belajar bahasa Sunda sebagai bahasa keduanya. Suatu hari ia menyaksikan dua orang sebayanya (beretnis Sunda)  bermain bulutangkis. Pada suatu saat, shutle cock yang mereka gunakan jatuh agak jauh dari mereka berdua. Mereka kemudian berselisih saling menyuruh.
“Cokot atuh, Ris (Ambil dong, Ris!)” kata anak yang satu.
“Cokot ku maneh ah (ambil oleh mu saja!)” kata anak yang lain.
Bagi anak beretnis Jawa yang menyaksikan, dialog tersebut membingungkan. Dalam bahasa Jawa, cokot berarti ‘gigit’. Baginya tidak masuk akal shutle cock  harus digigit. Kebingungan itu akhirnya berkurang ketika ia melihat salah seorang anak itu mengambil shutle cock sambil berkata,
“Oke lah, cokot ku sayah (Baiklah saya ambil)”
Anak beretnis Jawa itu, memperoleh pelajaran arti kata cokot dalam bahasa Sunda. Ia  menjadi semakin yakin tentang arti kata cokot tadi setelah  bertanya kepada pamannya yang kebetulan bisa berbahasa Jawa dan Sunda.
Contoh di atas dan contoh sebelumnya menunjukkan bahwa penelitian secara alamiah telah biasa dilakukan manusia. Karena adanya akal sebagai potensi ‘built in’ yang diberikan Tuhan, manusia mampu merespon segala macam yang terjadi diluar dirinya menjadi sebuah bahan untuk memperoleh pengetahuan baru. Proses memperoleh pengetahuan baru yang terjadi begitu saja (tidak direncanakan oleh manusia) merupakan proses alamiah, sebuah proses yang mengikuti hukum alam. Hukum alamnya adalah, ada sesuatu yang terjadi di luar diri manusia dan manusia akan menjadikannya sebagai bahan berpikir.
Dari jutaan (atau tidak terhitung) pengalaman manusia dalam melakukan pencarian ilmu pengetahuan baru, salah satunya telah sampai pada satu kesimpulan bahwa  perlu dirumuskan cara bagaimana melakukan penelitian yang efektif dan efesien. Efektif  artinya  hasil yang didapat sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Efesien berarti bahwa prosesnya menguntungkan dari berbagai aspek, seperti cepat (hemat waktu), murah (hemat biaya), mudah (hemat cara) dan ringan (hemat tenaga).
 Meskipun sekarang telah banyak sekali rumusan teori dan ilmu penelitian, bukan berarti proses perumusan penelitian yang efektif dan efesien itu telah tercapai secara final. Secara filsafi, tidak ada proses pencarian kebenaran yang final selagi manusia (sebagai subjek dalam penelitian) masih hidup, dan alam dunia (sebagai objek yang diteliti) belum kiamat.
Kalau kita mencoba membaca rumusan para pakar penelitian, kita bisa memperoleh ilmu pengetahuan tentang penelitian. Beberapa literatur atau kepustakaan yang bisa kita temukan untuk mempelajari ilmu penelitian diantaranya adalah : Prosedur Penelitian  (Suatu Pendekatan Praktek) karya, Suharsimi Arikunto; Metode dan Masalah Penelitian Sosial karya A. James Black dan Dean J. Champion; How to Design and Evaluate Research in Education karya Jack R. Fraenkel dan Norman E. Wallen;  Metodologi Penelitian karya Furqon, Metodologi Penelitian Masyarakat karya Kuntjoroningrat; Metode Penelitian Sosial karya   Manase Mala; Metode Research karya Nasution; Metode Penelitian Komunikasi karya Jalaludin Rakhmat; Dasar-dasar Penelitian Pendidikan dan  Bidang Non-Eksakta karya  H.E.T Ruseffendi; Metode Penelitian Administrasi karya Sugyono; Metodologi Penelitian karya Sumadi Suryabrata, dan Second Language Research Methods karya Herbert W. Selinger dan Elena Shohamy. Masih banyak  lagi buku-buku penelitian lain yang bisa kita baca, apalagi kalau mau sebentar saja mengunjungi perpustakaan, toko buku, atau web site  di Internet.
Penelitian selalu diawali dan didasarkan pada suatu masalah, baik masalah yang bersifat konseptual-teoretis maupun masalah yang berkaitan dengan kegiatan di lapangan. Penelitian yang didasarkan pada metode ilmiah (penelitian ilmiah) dimaksudkan untuk menemukan kebenaran (truth) dalam kerangka pemecahan.
Ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian dalam memahami penelitian, yaitu:
a.       Penelitian dilakukan dalam kerangka pemecahan masalah;
b.      Penelitian dilakukan untuk menemukan kebenaran (truth) yang relevan dan bermanfaat bagi pemecahan masalah yang dilakukan; dan kebenaran tersebut dikaji dan ditemukan melalui metode ilmiah.
c.       Penelitian dapat menggunakan berbagai prosedur yang berbeda, seperti observasi, pengajuan pertanyaan, eksperimen, dan pemerolehan. Misalnya penelitian dengan pemerolehan.
Seorang pembelajar bahasa kedua (Bahasa Inggris), dapat belajar dengan mendengarkan pengguna bahasa asli (native speaker) dan berusaha untuk menghimpun, meniru, dan mengikuti cara penutur asli berbicara. Penelitian dilakukan dengan menempuh langkah-langkah dengan aturan tertentu yang secara logika dapat diharapkan menemukan kebenaran ilmiah.
Beberapa ciri metode ilmiah yang membedakannya dari pandangan umum (common sense), yaitu:
a.       Menggunakan struktur teoretis dan skema konseptual yang dibangun secara sistematik, sehingga konsisten/koheren dan berkorespondensi dengan realitas;
b.      Menguji, secara empirik dan sistematik, teori dan hipotesis yang digunakan;
c.       Melakukan kontrol yang sistematik untuk menyisihkan hipotesis rival atau peubah yang mungkin menjadi penyebab bagi peubah terikat yang tengah dikaji;
d.      Mencari hubungan antara peubah secara konsisten dan sistematik; dan
e.       Menyisihkan proporsi yang bersifat metafisik.

Senin, 13 Februari 2012

Motivasi Untuk Sahabat


Sahabatku,
Saat orang meremehkan kemampuanmu, janganlah engkau bersedih hati dan larut dalam duka lara.

Sesungguhnya ada 3 sikap pilihan yg bisa kita ambil :

1. Cuek, Pasif dan Masa bodoh.
2. Marah, Sakit hati dan Membenci.
3. Tetap Tersenyum,Tetap Berjuang dan Membuktikan bahwa kemampuan kita adalah Luar Biasa!!

Sahabatku,
Saya yakin dan percaya sepenuhnya, engkau tahu pilihan mana yang terbaik untuk hidup dan masa depanmu. Janganlah berkecil hati. Tetaplah bersemangat. Jalanilah hidup dengan penuh optimis.

Ingatlah !
Senyuman akan lebih berarti kalau bisa dibagikan. Kebahagiaan akan lebih bernilai jika diteruskan dan kesuksesan akan lebih bermakna jika bisa diberikan kepada orang lain.

Dalam proses berusaha, "Hari ini" Mungkin Kita Menderita.

"Hari esok" Mungkin kita masih gagal.

Tetapi percayalah sahabatku,
Hanya org yg konsisten dalam berjuang keras yg mampu merubah dan menciptakan "Hari Lusa" menjadi Hari Sukses Luar Biasa.

Dan saya yakin bahwa kamu adalah orang terpilih itu, orang yang mampu bangkit dan merubah ketidakmungkinan menjadi kemungkinan; merubah ketidakpastian menjadi kepastian; orang yang akan membuktikan kepada dunia bahwa kamu BISA. Salam sukses selalu sahabatku.